jump to navigation

What makes you forget? October 10, 2009

Posted by williamhegel in manusia dan sekitarnya.
add a comment

Sometimes the writer forgets to remind or to remember about something, probably the writer forgets about his daily schedule for having meeting, or for his appointment his client. And these are caused by a word called “forget”. Have you?

Do you know what make this happen? Through many case studies, the scientific has found that there are some empirical that can be said as the cause of forgetting. the first is It is called “repression”1. It comes from the unpleasant events or good events. And most of us can remember some bad events; and the funny thing is nobody knows why some negative events are repressed and others are not?.

The second reason that can be said as the cause of our forgetting is other information. What the writer means in here is similar information, the similar may interfere with what we are trying to remind or to remember while we are speaking or thinking. And this also can answer what is the reason of forgetting and frustrations of cramming (distortion of thought). We often trouble ourselves in saying names and events incorrectly.

And the third reason is because we often do not find the right cues. What the writer means “cue” here is any word or name that can be referred to one’s experience or the location of his or her experience takes place (lets say: Kenjeren Park). Certain smells also can be referred too as the “Cue” such as the smell of incense makes one to remind the Church. Moreover, our emotional state can release a cue. Although we may find difficult way to recall it when we are in a different/ emotional state.

These are some reasons that can be concluded as the causes of forgetting. And for the writer himself believes that these three reasons play mostly in our daily life.

William Hegel 10102009

Advertisements

MENGKAJI ARTI BENCANA DARI KACAMATA KAUM OPTIMIST October 6, 2009

Posted by williamhegel in manusia dan sekitarnya.
4 comments

KITA SEPERTI SEBUAH BENDA  SAMA HALNYA SEPERTI  IDE-IDE YANG TERCIPTA(SHAKESPEARE)

Manusia dan alam memiliki keterikatan hubungan yang erat. Namun ketika alam tidak lagi bersahabat dengan manusia maka timbulah dampak yang  begitu dahsyat meporakporandakan kehidupan manusia. Masih selalu teringat jelas di ingatan saya, ketika 12 Desember 1992, terjadi gempa bumi berkuatan 6,8 SR yang diikuti oleh gelombang Tsunami yang begitu sadis merenggut secara paksa kehidupan orang-orang di kota Maumere. Bagi saya itulah kiamat singkat namun membawa trauma yang berkepanjangan bagi penduduk kota Maumere, terutama saya.

Belum lama juga terdengar berita yang memilukan hati, tepatnya tanggal 30 september 2009, Saudara-saudara kita di kota Padang mengalami bencana alam dahsyat yakni gempa bumi yang meluluhkan bangunan dan seisi kehidupan di atas tanah tinggi tersebut. Secara pribadi, saya sungguh-sungguh dapat merasakan betapa perihnya kejadian ini.

Ribuan mata tertuju ke kota Jam  gadang ini, beribu bahkan berjuta opini terucap baik di dalam hati atau terukir melalui ucapan bela sungkawa, peneguhan ataupun ratapan dengan kemeretak gigi mengutuk bencana ini. Lantas sapa yang harus disalahkan? Kenapa harus terjadi bencana seperti ini? apa yang dapat kita ambil hikmah dari kejadian ini? wah-wah kalo diteruskan bisa-bisa  sehari semalam pertanyaan-pertanyaan ini terus bergulir dan menjenuhkan.

Saya secara pribadi merasa tertarik untuk mengkaji, bagaimana sih seorang Optimis mengemukan pandangannya perihal arti bencana dari kacamatanya?

Bertolak dari pengertian etimologis, Optimis itu sendiri berasal dari bahasa latin yakni Optimus yang berarti “terbaik”. Dan dalam perkembangannya mengalami perubahan makna yakni” harapan penuh serta yakin perihal adanya kebaikan ataupun hikmah yang dapat diambil dari setiap kejadian(bencana) yang ada.

Kaum optimis ketika dihadapkan dengan realitas yang memilukan seperti ini lebih cenderung mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya dan menutup kedua matanya guna melatih indera pendengarannya. Mereka lebih suka mendengarkan curahan  isi hati para korban ketimbang melihat secara nyata mayat-mayat yang bergelimpangan. Bagi saya lebih cocoknya mereka lebih cocok disebut “relawan peneguhan” yang berjalan kesana-sini sambil menenteng mp4 dan meletakan headseat ke telinga para korban lalu memutar lagu Dmasiv yang berjudul “Jangan menyerah”. Kurang lebih liriknya yang dapat saya kutip:

“Hidup adalah anugerah, jangan mudah putus asa..

Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik

Tuhan Pasti menunjukan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar”

Sepenggal lirik di atas sungguh mencerminkan pandangan para kaum optimis, yang berpasrah dan berserah dirih kepada nasib. Bagi mereka segala sesuatu yang ada di muka bumi telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, sosok manusia diletakan seperti boneka yang digerakan kesana kemari.

Sikap berpasrah yang saya tekankan di atas telah ada dan tumbuh subur sejak dahulu di dalam sebuah lembaga yang disebut Agama. Salah satu tokoh Optimis dan religus yang terkenal dimasa lalu adalahLeibnitz(1646-1716) mencetuskan pandangannya bahwa

“segala sesuatu yang ada di dunia ini baik apa adanya, karena diciptakan  dan ditentukan oleh Monade/Tuhan” (dikutip dan diterjemahkan dari situs .http://novaonline.nvcc.edu/eli/eng252/candidestudy.html)

Selain Leibnitz saya juga mengutip salah satu surat kuitpan dari Imam Ahmad rahimahullah yang berkata

“Di dalam Al Quran kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan.” (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/seberkas-cahaya-di-tengah-gelapnya-musibah.html,di akses pada tanggal 3 Oktober 2009)

Dari kedua contoh kecil tersebut di atas jelaslah bahwa banyak pihak berpendapat bahwa segala bencana yang terjadi di muka bumi ini telah ditakdirikan untuk manusia dan manusia hendaklah bersabar karena itu semua adalah cobaan sang Kuasa. Dan seperti itulah kaum optimist mengkaji arti bencana dari kacamata mereka. Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini baik adanya, kejahatan ataupun bencana adalah pemberian Tuhan, manusia hendaklah selalu bersabar dan berdoa.

Timbulah keprihatinan saya perihal betapa rendahnya eksistensi manusia yang “katanya” diciptakan sesuai Citra Allah. Namun kok kenapa selalu dicoba dan selalu mengalami musibah bencana seperti ini? Hingga saya punya satu statement yang unik perihal keadaan ini. “Manusia saja yang selalu dicoba, terus kapan dong Tuhan di coba?”.

Referensi: