jump to navigation

Jangan takut berbahasa Inggris December 7, 2010

Posted by williamhegel in dunia pendidikan.
add a comment

By: Aris Mitedede

 

Masih ingatkah anda para pembaca yang budiman, disaat anda duduk di bangku SMP, SMA bahkan disaat anda telah menjadi seorang Mahasiswa kertika anda mengikuti kegiatan belajar mengajar pelajaran bahasa Inggris? Tentunya ada sedikit perasaan yang menggelitik dihati anda ketika membayangkan kembali suasana dimasa itu. Saya sendiri sebagai penulis artikel murahan inipun tersenyum dan merasakan kaki dan tangan saya berkeringat disaat Guru Bahasa Inggris berada di depan ruangan kelas & mulai melayangkan pandangan keseluruh siswa maupun siswi. Karena ada rasa was-was yang berlebihan kalau kita akan diberikan pertanyaan.

Tentunya peristiwa itu tetap membekas dimemori kita, bahkan bias dikatakan menjadi phobia ataupun  menjadi bias  hegemoni di waktu yang tak terhingga. Semoga anda para pembaca yang budiman tidak mengalami hal sedemikian rupa.

Ketika saya membaca Koran Pos Kupang yang bertajub “ Guru di NTT mengajar  tak sesuai Kompetensi” (Pos Kupang, 24 November 2010), saya menyadari betapa penting& peningnya para Guru menghindari konotasi “ Tak Sesuai Kompetensi” dalam mendidik para putra Bangsa kita untuk menjadi main target ataupun output  dunia pendidikan yang kompeten

Pernyataan ini didukung dengan adanya statsitik yang menunjukan hasil UN yang rendah dari beberapa bidang studi, khususnya Bahasa Inggris. Dan sepertinya sungguh miris, ketika guru menjadi “causa prima” problem dunia pendidikan secara global& khususnya dunia pendidikan di NTT . Karena saya yakin, begitu banyak  aspek yang dapat dijadikan poin tolak ukur maju mundurnya dunia pendidikan.

Hal yang menjadi alasan utama bagi penulis untuk menyusun artikel ini adalah mengapa minat Para Siswa maupun mahasiswa NTT secara khususnya kurang mampu  “berbicara banyak” di mata pelajaran Bahasa Inggris? Serta sangat tidak benar ketika kita hanya mampu bertanya tanpa berbagi pengalaman ataupun mencari solusi bagaimana langkah-langkah mengatasi kegagapan ataupun phobia yang berlebihan ketika menyebut “ Pelajaran Bahasa Inggris”.

Faktor- Faktor Penyebab Kurangnya Minat Ber bahasa Inggris

Bilingual Bahasa Melemahkan Minat Berbahasa Inggris

NTT, sebuah propinsi yang kaya suku & Bahasa Daerah. Mayoritas Penduduk NTT adalah penduduk yang Bilingual (penggunaan dua atau lebih bahasa) bagai dua sisi mata uang, disatu sisi bahasa daerah adalah bahasa yang menambah keindahan ragam bahasa di ranah NTT, sedangkan disisi yang lain  merupakan problem mendasar di dunia pendidikan dasa warsa sekarang. Bahasa Inggris  dianggap oleh sebagian besar kalangan masyarakat pada umumnya serta dikalangan pelajar khususnya adalah bahasa asing yang keberadaannya ditempatkan sebagai bahasa yang tak perlu didalami, bahkan lebih miris ketika kita beranggapan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa orang pintar, bahasa orang gaul& sombong.

Fenomena ini bukan saja baru dirasakan sekarang, namun itu telah terjadi  pada zaman-zaman terdahulu sebagian kelompok masyarakat antusias sekali untuk belajarbahasa ibu , dan menolak bahasa asing. (Jackobovitch, hal. 29-79, 1971).

Jadi, dapatlah dipahami, tetapi bukan dijadikan alasan ketika para siswa mengeluh “bahasa inggris susah..hebat. lebi baek bahasa daerah..kita speak-speak lancar..”  saya menarik pemahaman dari kalimat teman-teman pelajar di atas, bahwa betapa rumitnya mereka ketika harus bisa berbahasa lebih dari dua bahasa secara sekaligus dan berganti dari bahasa ibu( Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah& Bahasa Inggris)

Kurangnya Motivasi Internal & Eksternal Berbahasa Inggris

Berbicara mengenai motivasi, berarti berbicara perihal minat, dan minat itu timbul dan dalam perkembangannya mengalami kemajuan ataupun kemunduran tergantung kepada faktor pribadi subjek itu sendiri serta subjek terhadap lingkungannya.

Jacopovitch(1971) dalam bukunya menekankan kepada kita bahwaTerkadang seorang siswa merasa terbebani oleh kegiatan-kegiatan belajar bebahasa asing. Baik kegiatan dalam kelas, di laboratorium dan pekerjaan rumah. Dari pendapat itu, dapatlah penulis menarik benang merah mengapa faktor perasaan, need dari seseorang siswa itu sendiri mempengaruhi animo dia menyukai ataupun tidak pelajaran berbahasa Inggris.

Patrick Howarth dalam artikelnya di situs yang saya cantumkan ini, http://www.teachingenglish.org.uk/think/speak/interaction.shtml membahasakan motivasi internal sebagai Partisipasi siswa. Beliau menekankan pula bahwa tendensi bagus tidaknya bahasa Inggris ,seorang siswa maupun siswi tergantung dari partisipasi siswa itu di dalam kegiatan belajar mengajar.

Hal ini dapat dijadikan batu penjuru, mengapa para pelajar di NTT memiliki minat yang tidak terlalu besar dalam meningkatkan dan merawat motivasi internal dalam belajar berbahasa Inggris, yang akhirnya bermuara kepada anjloknya prestasi belajar siswa itu sendiri.

Bila anda melihat sepintas pernyataan penulis di atas, disitu penulis menyatakan maju mundurnya motivasi dikarenakan juga oleh interaksi subjek( pelajar) dengan lingkungannya. Yang penulis maksudkan dengan lingkungannya adalah pelajar dengan aspek social lainnya seperti keluarga, teman-temannya, serta Guru dalam hal ini bagaimana peran guru itu sendiri ikut aktif untuk membangun motivasi Para Pelajar itu sendiri.

Solusi  Mengatasi Kurangnya Minat Berbahasa Inggris

Setelah melihat beberapa faktor-faktor penyebab kurangnya minat berbahasa Inggris para siswa, penulis mencoba menggali bagaimana langkah-langkah yang dapat dianggap solusi untuk mengatasi minimnya minat ini.karena  Saya tidak tertarik untuk mencari kambing hitam ataupun putih kepada siapa kita harus menyalahkan, melainkan bagaimana kita mencari jalur tengah dan mengkombinasikan kedua subjek dunia pendidikan ini antara Guru dan Pelajar demi mencapai hasil yang maksimal.

Saya tertarik untuk menggunakan metode pengajaran bahasa Inggris yang diterapkan oleh Patrick Howarth, yakni menciptakan sinergi antara Guru&pelajar Bahasa Inggris. Howarth menekankan betapa pentingnya  kerjasama itu terjadi. Adapun langkah-langkah yang dapat diambil. Seperti yang saya paparkan di bawah ini.

  1. 1. Proses Pengajaran Berbahasa Inggris

Langkah ini dapat dipraktekan di dalam Sebuah ruangan kelas, sang Guru menjadi  fasilitator, dan para murid menjadi subjek dan objek pembelajaran berbahasa Inggris, berikan ruang waktu seluas-luasnya kepada para siswa agar dapat mengemukakan pendapat dan saling Tanya jawab antara satu dengan lainnya. Berikan sebuah topik, dan memulailah memberikan pertanyaan dengan kalimat “ What do you think?” “ Do you want to start?”. Dan “ sorry, can you say that again?”.  Dan setelah itu ajaklah seorang siswa menjadi volunteer untuk berdiri ke depan kelas untuk anda dan para murid yang lain untuk bertanya dan mencatat hasil jawabannya.

  1. 2. Pengajaran Pra-Test

Ini merupakan masukan yang baik buat para Guru Bahasa Inggris, yakni guru mengidentifikasi terlebih dahulu soal-soal yang akan diberikan kepada muridnya sebelum melakukan test, karena di kuatirkan apabila ada bebereapa kosakata tidak dimengerti atau kurang dipahami oleh para murid.

  1. 3. Memaparkan Ide Suport

Yang dimaksudkan oleh penulis adalah, Guru dapat melakukan brain storming melalui cara, menuliskan Ide support di papan, lalu membiarkan para murid menggali seluas-luasnya mengenai ide yang dituliskan oleh Guru.

  1. 4. Memberikan waktu Tenggang

Sebuah strategi agar memberikan kesempatan kepada para murid, sehingga mereka memiliki waktu luang untuk berpikir dan menggali ide-ide, agar dapat menjawab atau menyampaikan pandangan mereka terhadap subjek yang Guru tanyakan.

  1. 5. Menciptakan Suasana Yang Mendukung

Ciptakan suasana yang mendukung di dalam kelas, dengan banyak memberikan apresiasi yang motivatif, melalui pujian dan umpan balik atas apa yang telah dilakukan oleh para pelajar. Berhentilah menjadi Penilai yang perfect! Namun jadikan diri seorang pengawas yang mencatat secara diam-diam kesalahan pengucapan ataupun grammar dari para murid, kemudian memberitahukan apa kesalahpahaman mereka dan pada sesi terakhir, guru wajib memberikan jawaban atau pengucapan yang tepat.

  1. 6. Memberikan variasi Interaksi& Penugasan yang Berulang-ulang

Ketika guru berhadapan dengan jumlah murid yang besar, cobalah melakukan secara continuitas dan variatif petukaran interaksi antara pasangan murid, bahasa sederhananya adalah memberikan sebuah tugas kepada para murid, serta para murid hendaklah bertukar pasangan untuk beritenteraksi agar semakin memperluas kemampuan berkomunikasi satu dengan lainnya.

  1. 7. Mengadakan Tes Yang Mengandung Beban Level Secara Rancuh

Sebuah kelas, terdapat beberapa criteria tingkatan kemampuan yang dimiliki para murid, Sangat mampu- mampu-cukup mampu dan tidak mampu. Tugas Guru disini adalah, memberikan tes yang memiliki beban level yang rancuh( Tentunya disesuiakan dengan standar kemampuan rata-rata) dan melihat kemampuan masing-masing murid untuk menjawab tes tersebut. Ini dapat dilakukan pada kelas Listening.

  1. 8. Memberikan Alasan Mengapa Perlu Adanya Interaksi Di Dalam Kelas

Berikan sebanyak-banyaknya tes yang lebih menekankan mereka betapa pentingnya Interaksi yang aktif dalam mendengar dan berbicara. Ini dapat dilakukan melalui permainan Gap Informasi, di mana para murid dituntut lebih jelih dan aktif untuk menemukan informasi-informasi yang didengarkannya melalui Alat Peraga berupa TV, Tape atau dari Guru sendiri.

Demikianlah beberapa langkahAdd Audio-langkah yang dapat dijadikan poin pertimbangan dari para Guru bahasa Inggris di NTT, yakinlah bahwa melalui interaksi dapat meningkatkan perkembangan proses pembelajaran bahasa dan interaksi social para murid.Besarlah harapan saya, agar dapat bermanfaat bagi anda para pembaca yang budiman. Sekian dan terimakasih

BELAJAR DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL October 2, 2009

Posted by williamhegel in dunia pendidikan.
3 comments

PENDAHULUAN

Perasaan manusia pada umumnya mudah  dipengaruhi oleh  apa yang dilihat, dirasakan dan didengar. Dengan kata lain, sungguh  tidak mustahil ketika ada pendapat yang menyatakan bahwa audio visual mempengaruhi sikap dan perilaku, serta menjembatani proses pembelajaran.

Pernyataan tersebut di atas dapat didukung oleh Yudhi  Munadi (2008), dalam bukunya menekankan bahwa indera yang paling banyak membantu manusia dalam perolehan pengetahuan dan pengalaman adalah indera pendengaran dan  indera penglihatan.

Media dapat diartikan dengan istilah penghubung atau perantara dalam menyampaikan suatu materi yang diajarkan untuk mencapai suatu  tujuan. Dan dalam proses penyampaian materi kepada orang lain dapat menggunakan sarana atau alat dalam bentuk audio,visual, audio visual dan multimedia.

Media audio visual dapat diartikan sebagai media yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses. Lebih lanjutnya lagi, Yudhi Munadi (2008: 9) berpendapat bahwa pesan visual yang terdengar dan terlihat itu dapat disajikan melalui program audio visual melalui film dokumenter, film drama, dan lain-lain. Yang dalam penyajiannya dapat disambungkan pada alat proyeksi (projectable aids).

Dalam makalah ini, menekankan kepada klasifikasi bentuk media audio visual  dan manfaat dari masing-masing klasifikasi media audio visual tersebut.

MEDIA AUDIO VISUAL

Seperti yang telah ditekankan di pendahuluan, yaitu menekankan kepada klasifikasi bentuk media audio visual  dan manfaat dari masing-masing klasifikasi media audio visual tersebut, maka pada bab ini akan memaparkan beberapa bentuk serta manfaat dari peralatan media audio visual yang lazim digunakan di dalam dunia pendidikan.

Media audio visual dapat dibagi menjadi dua jenis, jenis pertama yakni “Media Audio Visual Murni”, dimana media jenis ini dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar  serta “Media Audio Visual Tidak Murni”, yakni peralatan visual yang harus dilengkapi dengan unsur penunjang audio, seperti rekaman kaset yang dimanfaatkan secara bersamaan. Adapum bentuk-bentuk media audio visual murni yang dapat dijabarkan di bawah ini.

  1. A. Film Gerak Bersuara

Film adalah alat yang ampuh  untuk menyampaikan suatu maksud kepada masyarakat dan juga anak-anak yang memang lebih banyak menggunakan aspek emosinya dibanding aspek  rasionalitasnya. Besarnya kegunaan media ini dapat pula dirasakan dalam dunia pendidikan. Munadi  menekankan bahwa melalui indera yang terlibat, dia menyimpulkan bahwa film adalah alat komunikasi yang sangat membantu proses pembelajaran efektif. Karena apa yang terpandang mata dan terdengar oleh telinga, lebih cepat dan lebih mudah diingat daripada apa yang  hanya dapat dibaca saja atau hanya didengar saja.

Manfaat dan karakteristkik  lainnya dari media ini adalah meningkatkan efektivitas dan efesiensi proses pembelajaran. Di antaranya:

  • Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu.
  • Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat.
  • Pesan yang disampaikannya secara cepat dan mudah diingat.
  • Mengembangkan pikiran dan pendapat siswa.
  • Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang.
  • Semua peserta didik dapat belajar dari film, baik yang pandai maupun yang kurang pandai.

Selain kelebihan di atas, adapun kelemahan yang muncul dalam pelaksanaan dan pengembangan materi tersebut. Permasalahan yang muncul adalah media audio visual terlalu menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangan materi tersebut.

Dalam konteks pembelajaran, film mempunyai banyak jenis yang variatif, diantaranya adalah sebagai berikut:

v     Film Dokumenter (documentaries)

Film dokumenter menggambarkan permasalahan kehidupan manusia meliputi bidang ekonomi, budaya, hubungan antarmanusia, etika dan lain sebagainya. Hal senada ini diucapkan oleh Grieson (Heinich, 1985: 212) dengan sebuah pernyataan  “a creative treatment of actually”. Film dokumenter dapat mengambil kisah tentang kehidupan manusia di daerah pedalaman, misal : sistem pendidikan pesantren.

v     Dokudrama

Perbedaan dari jenis film ini dengan dokumenter adalah dalam dokudrama membutuhkan pengadegan. Misal : kisah teladan para nabi dan rasul.

v     Film Drama dan Semidrama

Kedua film ini melukiskan relasi antara sesama manusia dan tema tersebut bisa bersifat fiktif dan non fiktif.

Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pengajar dalam memanfaatkan film untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkannya adalah:

  • Film harus dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran. (Anderson: 1987: 116-117)
  • Guru harus mengenal dan melihat terlebih dahulu film tersebut agar mampu mengetahui manfaat film tersebut.
  • Agar siswa tidak memandang film sebagai media hiburan semata, perlu diberikan penugasan dan pemberian test guna mengetahui seberapa banyak informasi yang mereka tangkap.
  1. B. Video

Video maupun  media film memiliki banyak kemiripan dalam segi karakteristiknya dan kelemahannya. Yakni mengatasi keterbatasan jarak dan waktu dan sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang. Kelemahannya adalah sama-sama menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangan materi tersebut.

Dalam upaya pemanfaatan video dalam proses pembelajaran, hendaknya kita memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Program Video harus dipilih agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Salah satu contohnya adalah apabila pemakaian media video untuk  tujuan kognitif dapat digunakan untuk hal-hal yang menyangkut kemampuan mengenal kembali dan memberikan rangsangan berupa gerak yang serasi. Pengamatan terhadap kecepatan relative suatu obyek, mengajarkan pengenalan makna sebuah prinsip kemanusiaan

  • Guru harus mengenal program video yang ada dan  memahami manfaatnya bagi pelajaran.
  • Sesudah program video diputar, harus diadakan diskusi. Agar siswa memahami bagaimana mencari pemecahan masalah dan menjawab pertanyaan.
  • Perlu diadakan terst agar mampu  mengukur berapa banyak informasi yang mereka tangkap dari program video tersebut.

Perkembangan Video

Perkembangan teknologi audio visual ini dapat diklasifikasikan secara garis besar  menjadi dua bentuk yakni Video Pita Magnetik (VTR, VCR, dan Mini-DV), serta Video Disc.

a. Video Pita Magnetik (VTR, VCR, dan Mini-DV)

Pengembangan Video Pita Magnetik diawali pada tahun 1951 oleh Alexander M. Poniatoff. Setelah melewati berbagai proses pengembangan, lahirlah dua format video yakni Video Tape Recorder (VTR) dan Video Cassette Recorder (VCR). Dalam  penyebarannya, tipe VRC ½ inch (Li-matic) pernah menjadi raja di pasaran Indonesia pada era 1980-an hingga awal 1990-an.

VCR tipe ½ inch sangat popular karena bukan saja dapat dimanfaatkan sebagai sarana hiburan namun bermanfaat untuk pesan yang bersifat informative, edukatif dan instruktisional. Hal ini disebabkan media ini mampu melibatkan dua indera  sekaligus, yakni pendengaran dan penglihatan dalam satu proses.

Ketika Handycam  membawa serta pula munculnya teknologi pita magnetic yakni Hi8 dan Mini-DV (Digital Video). Adapun kelebihan dan kelemahan dari kedua pita magnetik ini,  kelebihannya adalah ukurannya yang lebih kecil dan murah namun tidak begitu popular digunakan oleh masyarakat umum.

  1. Video Disc

Video disk adalah sebuah sarana penyimpanan data berupa gambar maupun suara yang dipopulerkan Philips pada tahun 1972, dengan pendasaran capacitance system, yakni system pemindaian informasi gambar dan suara dengan system pemindaian (scan) informasi gambar dan  suara dengan menggunakan tracking arm dan stylus. Kemudian mengalami perkembangan menjadi semakin canggih dan memiliki kapasitas penyimpanan data audio maupun video semakin besar dan praktis. Hal ini dapat dilihat dengan bermunculannya bentuk-bentuk kepingan seperti DVD,  HD-DVD dan blu –ray.

  1. C. TELEVISI

Televisi adalah  media yang berperan sebagai gambar hidup dan juga sebagai radio yang dapat dilihat dan didengar secara bersamaan. Selain itu, televisi juga dapat memberikan kejadian-kejadian yang sebenarnya pada saat, suatu peristiwa terjadi dengan disertai dengan komentar dari penyiarnya.

Dalam dunia pengajaran, telivisi juga mengambil peran serta. Hal ini dapat kita lihat dari keuntungan yang diperoleh dati televisi untuk menunjang pengajaran, yakni :

  1. Bersifat actual.
  2. Memperluas tinjauan kelas, melintasi tinjauan  kelas, melintasi berbagai daerah atau Negara.
  3. Dapat menghidupkan kembali cerita yang terjadi di masa lampau.
  4. Menarik minat anak.
  5. Mampu  melatih guru dalam masa pre-servise serta inservice training.
  6. Masyarakat diajak berpartisipasi dalam rangka meningkatkan perhatian mereka terhadap sekolah.

Telivisipun memiliki sisi kelemahan sebagai media pembelajaran, yakni media ini juga menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangan materi serta yang yang paling mencolok adalah adanya komunikasi satu arah saja. Sehingga akan terjadi kesulitan dalam pentrasnferan jadwal siaran pembelajaran di televisi dengan jadwal pembelajaran di sekolah.

Di samping itu juga, televisi merupakan media pembelajaran jarak jauh. Berbicara mengenai televisi sebagai media pendidikan menimbulkan kesadaran bahwa masih sedikitnya jumlah stasiun telivisi yang memuat program pendidikan. Selain itu, timbulnya keluhan-keluhan yang dilontarkan masyarakat tentang dampak negatif siaran televisi. Di dalam jurnal  Global March, UNESCO memuat kecemasan tentang televisi dan dampak negatif yang terjadi di hampir seluruh pelosok dunia selama ini yang mengancam kehidupan anak-anak dan bahkan berdampak buruk pada kehidupan sosial manusia (http://www. Globalmarch.org.html, di akses pada tanggal 20 September 2009).

Dengan  hadirnya Televisi Edukasi (TV-E) sebagai sebuah stasiun televisi di Indonesia yang menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran diharapkan mampu menjalankan misi mulia ini. Adapun sasaran utama dari TV-E adalah sekolah dengan materi pendidikan yang ditujukan pada siswa jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Bertolak dari teori yang menjadi bahan diskusi di khalayak ilmuwan tentang  proses memancarkan seketika gambar bergerak ke jarak yang jauh menggunakan elektromagnetik, John Logie(1888-1956) berhasil membuat televise hitam putih pada tahun 1923. Dari bentuk TV yang sederhana ini, mengalami perkembangan kearah bentuk yang lebih praktis dengan fasilitas yang semakin lengkap. Cathode Ray Tube (CRT), LCD dan Plasma display Plasma (PDP) adalah bentuk perkembangan teknologi televise hingga abad ini..

KESIMPULAN

Para pendidik dan orang tua tidak dapat mengingkari begitu kuat pengaruh media komunikasi khususnya media audio visual terhadap anak didik. Daya tarik yang begitu kuat dari media audio visual bagi anak-anak tidak lepas dari karakteristik media ini yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan media cetak maupun media dengar, sehingga anak-anak sangat menyukainya. Sebagai orang yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan adalah tugas kita untuk kreatif dan selektif dalam menggunakan unsur-unsur media audio visual yang ada. Film, Video dan televisi adalah alat bantu, bukanlah menjadi faktor utama penentu berhasil tidaknya pentransferan ilmu kepada pelajar. Gurulah sebagai dokter yang paham untuk meracik semua alat yang ada untuk dimanfaatkan sebaik mungkin