jump to navigation

October 4, 2009

Posted by williamhegel in deisme.
5 comments

Voltaire dan Deisme

Voltaire (François-Marie Aroue)t, seorang filsuf, penulis essay perancis yang terkenal dimasa Pencerahan. Ia dilahirkan pada tanggal 21 November 1694  dan meninggal pada tanggal  30 Mei 1778. Beliau adalah seorang tokoh yang terkenal getol dalam menyeruhkan perjuangan dalam memperthankan hak-hak Publik, yang di dalamnya termasuk hak untuk bebas dari kungkungan hegemoni gereja terhadap kebebasan beragama dan berdagang.  Bukanlah Voltaire jika dia tidak pandai menciptakan musuh. Melalui pijaran-pijaran kata-kata yang tertulis pada buku-bukunya maupun surat-suratnya seperti Dictionnaire philosophique,( kamus Filsafat), Candide( Optimisme), adalah contoh-contoh yang dapat menggambarkan keseluruhan inti perjuangannya. Selain itu pula, pembaca pun dapat mengetahui “apa yang menjadi alasan dasar Voltaire melakukan itu semua?.

Berlandaskan dari pola pikirnya yang menolak keabsolutan sebuah keimanan dari sebuah agama semata (kitab suci dan tradisi-tradisi yang mengatasnamakan pembebasan melalui tradisi-tradisi religi untuk percaya dan menyembah Tuhan.) Voltaire lebih memilih untuk memfokuskan ide-idenya terhadap sebuah keyakinanan bahwa dunia universal ini hanyalah didasarkan kepada hal-hal yang bersifat rasional semata dan ia lebih menekankan rasa respek terhadap alam. (http://en.wikipedia.org/wiki/Voltaire, diakses pada tanggal 23 Maret 2009).

Landasan pola pikir tersebut di atas mendasarkan kepada konsep Deisme yang tumbuh subur dimasa pencerahan(17-18m). Deisme adalah sebuah teologi yang menjelaskan posisi hubungan antara Tuhan dengan dunia ciptaan-Nya. Dimana Tuhan tidak ambil peduli lagi dalam kehidupan manusia, Ia membiarkan keseluruhan proses kehidupan berlangsung antara manusia dan alam dalam sebuah jalinan relasi yang disebut Hukum Alam.

Hal senada ini didukung oleh John Orr (1934) dalam bukunya yang berjudul English Deism: Its Roots and Its Fruits. Eerdmans. Hal. 13.

God endowed the world at creation with self-sustaining and self-acting powers and then abandoned it to the operation of these powers acting as second causes.

Yang dapat diterjemahkan sebagai berikut:

Tuhan menghadiahkan dunia kepada ciptaan-Nya yang telah dianugerahi pertahanan diri dan kekuatan bertindak, kemudian Tuhan meninggalkannya dalam perjalanan proses tindakan itu sendiri sebagai Causa kedua( Causa pertama adalah Tuhan)

Dari pengertian-pengertian tersebut, penulis dapat menggarisbawahi beberapa point penting pandangan Voltaire sebagai seorang penganut Deisme itu sendiri:

  1. Setiap Sebab( Causa) tidak selamanya mengarah kepada sebuah Akibat(Efek) yang baik atau tepat.
  2. Tuhan itu sudah tidak menjadi Sutradara utama semenjak dunia tercipta, ia menciptakan dunia dan membiarkan dunia dan ciptaan-Nya berinteraksi dalam hukum alam.(dikutip dan diterjemahkan dari Skripsi Hilarius H.mitedede, 2009)

Kedua point penting tersebut di atas tentu membawa kontradiksi bagi para kaum religius yang beranggapan bahwa pendapat ini sangat melecehkan Eksistensi Magnum Opus, dan menganggap bahwa kaum Deist( Penganut Deisme) adalah kafir atau sesat. Namun bagi Penulis, Voltaire adalah sebuah batu penjuru yang membawa kesejukan di tengah caruk maruknya dunia yang penuh dengan kekejaman dan melegalkan pembantaian masal dengan mengatasnamakan Tuhan.

Hal yang dapat dijadikan sebagai kesimpulan penyusun adalah, bagi Voltaire dan Kaum Deist memiliki prinsip “daripada lirik rumput tetangga, mendingan kita rawat rumput di halaman kita sendiri..”

Referensi:

Mitedede,H,Hilarius. 2009. A STUDY OF VOLTAIRE’S CONTRADICTIONS THROUGH THE CHARACTER OF CANDIDE TO LEIBNIZ’S OPTIMISM IN VOLTAIRE’S CANDIDE. Hal.16

Orr, John. 1934. English Deism: Its Roots and Its Fruits. Eerdmans. Hal. 13

http://en.wikipedia.org/wiki/Voltaire.com