jump to navigation

MENGKAJI ARTI BENCANA DARI KACAMATA KAUM OPTIMIST October 6, 2009

Posted by williamhegel in manusia dan sekitarnya.
trackback

KITA SEPERTI SEBUAH BENDA  SAMA HALNYA SEPERTI  IDE-IDE YANG TERCIPTA(SHAKESPEARE)

Manusia dan alam memiliki keterikatan hubungan yang erat. Namun ketika alam tidak lagi bersahabat dengan manusia maka timbulah dampak yang  begitu dahsyat meporakporandakan kehidupan manusia. Masih selalu teringat jelas di ingatan saya, ketika 12 Desember 1992, terjadi gempa bumi berkuatan 6,8 SR yang diikuti oleh gelombang Tsunami yang begitu sadis merenggut secara paksa kehidupan orang-orang di kota Maumere. Bagi saya itulah kiamat singkat namun membawa trauma yang berkepanjangan bagi penduduk kota Maumere, terutama saya.

Belum lama juga terdengar berita yang memilukan hati, tepatnya tanggal 30 september 2009, Saudara-saudara kita di kota Padang mengalami bencana alam dahsyat yakni gempa bumi yang meluluhkan bangunan dan seisi kehidupan di atas tanah tinggi tersebut. Secara pribadi, saya sungguh-sungguh dapat merasakan betapa perihnya kejadian ini.

Ribuan mata tertuju ke kota Jam  gadang ini, beribu bahkan berjuta opini terucap baik di dalam hati atau terukir melalui ucapan bela sungkawa, peneguhan ataupun ratapan dengan kemeretak gigi mengutuk bencana ini. Lantas sapa yang harus disalahkan? Kenapa harus terjadi bencana seperti ini? apa yang dapat kita ambil hikmah dari kejadian ini? wah-wah kalo diteruskan bisa-bisa  sehari semalam pertanyaan-pertanyaan ini terus bergulir dan menjenuhkan.

Saya secara pribadi merasa tertarik untuk mengkaji, bagaimana sih seorang Optimis mengemukan pandangannya perihal arti bencana dari kacamatanya?

Bertolak dari pengertian etimologis, Optimis itu sendiri berasal dari bahasa latin yakni Optimus yang berarti “terbaik”. Dan dalam perkembangannya mengalami perubahan makna yakni” harapan penuh serta yakin perihal adanya kebaikan ataupun hikmah yang dapat diambil dari setiap kejadian(bencana) yang ada.

Kaum optimis ketika dihadapkan dengan realitas yang memilukan seperti ini lebih cenderung mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya dan menutup kedua matanya guna melatih indera pendengarannya. Mereka lebih suka mendengarkan curahan  isi hati para korban ketimbang melihat secara nyata mayat-mayat yang bergelimpangan. Bagi saya lebih cocoknya mereka lebih cocok disebut “relawan peneguhan” yang berjalan kesana-sini sambil menenteng mp4 dan meletakan headseat ke telinga para korban lalu memutar lagu Dmasiv yang berjudul “Jangan menyerah”. Kurang lebih liriknya yang dapat saya kutip:

“Hidup adalah anugerah, jangan mudah putus asa..

Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik

Tuhan Pasti menunjukan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar”

Sepenggal lirik di atas sungguh mencerminkan pandangan para kaum optimis, yang berpasrah dan berserah dirih kepada nasib. Bagi mereka segala sesuatu yang ada di muka bumi telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, sosok manusia diletakan seperti boneka yang digerakan kesana kemari.

Sikap berpasrah yang saya tekankan di atas telah ada dan tumbuh subur sejak dahulu di dalam sebuah lembaga yang disebut Agama. Salah satu tokoh Optimis dan religus yang terkenal dimasa lalu adalahLeibnitz(1646-1716) mencetuskan pandangannya bahwa

“segala sesuatu yang ada di dunia ini baik apa adanya, karena diciptakan  dan ditentukan oleh Monade/Tuhan” (dikutip dan diterjemahkan dari situs .http://novaonline.nvcc.edu/eli/eng252/candidestudy.html)

Selain Leibnitz saya juga mengutip salah satu surat kuitpan dari Imam Ahmad rahimahullah yang berkata

“Di dalam Al Quran kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan.” (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/seberkas-cahaya-di-tengah-gelapnya-musibah.html,di akses pada tanggal 3 Oktober 2009)

Dari kedua contoh kecil tersebut di atas jelaslah bahwa banyak pihak berpendapat bahwa segala bencana yang terjadi di muka bumi ini telah ditakdirikan untuk manusia dan manusia hendaklah bersabar karena itu semua adalah cobaan sang Kuasa. Dan seperti itulah kaum optimist mengkaji arti bencana dari kacamata mereka. Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini baik adanya, kejahatan ataupun bencana adalah pemberian Tuhan, manusia hendaklah selalu bersabar dan berdoa.

Timbulah keprihatinan saya perihal betapa rendahnya eksistensi manusia yang “katanya” diciptakan sesuai Citra Allah. Namun kok kenapa selalu dicoba dan selalu mengalami musibah bencana seperti ini? Hingga saya punya satu statement yang unik perihal keadaan ini. “Manusia saja yang selalu dicoba, terus kapan dong Tuhan di coba?”.

Referensi:

Comments»

1. ahmed shahi kusuma - October 26, 2009

@william hegel
Eh….hal ini berat juga ya!
Kalo begini, misalkan aja halini tidak berhubungan dengan tuhan gimana? Let him rest in peace for a while…
And we are departed for struggling and deserving for life,
Jadi anggap saja ini konsekuensi dunia (materi) acak dadu, sementara dunia (spiritualitas) adalah titik ultim(akhir), eksistensi dan moralitas yg lain (eh baca juga lo bagaimana Gabriel Marcel, dari ateis menjadi Katolik).

2. lovepassword - November 5, 2009

Masalah optimis atau nggak, itu kan perspepsi. Lha persepsi itu erat kaitannya dengan latar belakang manusia itu. Ada manusia tertentu yang cenderung melihat bencana sebagai hukuman ada juga yang tidak. Tetapi bisa saja demikian : Kadang ada manusia yang melihat bencana secara tidak konsisten. Mereka melihatnya dari siapa yang terkena bencana. Kalo bencana itu menimpa teman, kita sering ngomong ada rahmat/ hikmah yang tersembunyi. Lha kalo menimpa pihak yang berseberangan kita anggap itu karena hukuman atas dosa/kesalahan

_lovepassword.blogspot.com/2009/11/persepsi-manusia-terhadap-bencana.html

williamhegel - February 28, 2010

maaf cak baru dibalas, maklum baru ada duit buat internetan..bagi saya apa yang anda komentari itu benar n baik adanya…emang gitu sifat manusia…serba repot…maunya yang enak2 aja…ya…

3. ahmed shahi kusuma - January 4, 2010

meskipun terlambat, saya ucapin selamat natal en tahun baru. Smoga menjadi lebih bijak …..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: