jump to navigation

Because of loving you October 10, 2009

Posted by williamhegel in my sonnet.
add a comment

By: Aris mitedede

This heart beeps twice harder and faster than I thought

I can’t imagine how this feeling swaps me so sorrow

It comes when your face comes so fast and grabs hard like a crow

Sadness and happiness are mixed together, nicely and wonder I who brought?

I am being trapped by your crouches, in the middle of your crouches I fought

I ought not to bow for your mercies, thou I have been caught

Half day is all I need to mock you, “you are so selfish!”

You always tell me that this Is the best way for love

Instead of telling the truth, hiding the pearl inside of your back!

A pearl that is given from the heaven through the first kiss;

Lying up above your body, when the light was off.

Loving you like counting stars above, and I’ll be waiting till you back.

What makes you forget? October 10, 2009

Posted by williamhegel in manusia dan sekitarnya.
add a comment

Sometimes the writer forgets to remind or to remember about something, probably the writer forgets about his daily schedule for having meeting, or for his appointment his client. And these are caused by a word called “forget”. Have you?

Do you know what make this happen? Through many case studies, the scientific has found that there are some empirical that can be said as the cause of forgetting. the first is It is called “repression”1. It comes from the unpleasant events or good events. And most of us can remember some bad events; and the funny thing is nobody knows why some negative events are repressed and others are not?.

The second reason that can be said as the cause of our forgetting is other information. What the writer means in here is similar information, the similar may interfere with what we are trying to remind or to remember while we are speaking or thinking. And this also can answer what is the reason of forgetting and frustrations of cramming (distortion of thought). We often trouble ourselves in saying names and events incorrectly.

And the third reason is because we often do not find the right cues. What the writer means “cue” here is any word or name that can be referred to one’s experience or the location of his or her experience takes place (lets say: Kenjeren Park). Certain smells also can be referred too as the “Cue” such as the smell of incense makes one to remind the Church. Moreover, our emotional state can release a cue. Although we may find difficult way to recall it when we are in a different/ emotional state.

These are some reasons that can be concluded as the causes of forgetting. And for the writer himself believes that these three reasons play mostly in our daily life.

William Hegel 10102009

MENGKAJI ARTI BENCANA DARI KACAMATA KAUM OPTIMIST October 6, 2009

Posted by williamhegel in manusia dan sekitarnya.
4 comments

KITA SEPERTI SEBUAH BENDA  SAMA HALNYA SEPERTI  IDE-IDE YANG TERCIPTA(SHAKESPEARE)

Manusia dan alam memiliki keterikatan hubungan yang erat. Namun ketika alam tidak lagi bersahabat dengan manusia maka timbulah dampak yang  begitu dahsyat meporakporandakan kehidupan manusia. Masih selalu teringat jelas di ingatan saya, ketika 12 Desember 1992, terjadi gempa bumi berkuatan 6,8 SR yang diikuti oleh gelombang Tsunami yang begitu sadis merenggut secara paksa kehidupan orang-orang di kota Maumere. Bagi saya itulah kiamat singkat namun membawa trauma yang berkepanjangan bagi penduduk kota Maumere, terutama saya.

Belum lama juga terdengar berita yang memilukan hati, tepatnya tanggal 30 september 2009, Saudara-saudara kita di kota Padang mengalami bencana alam dahsyat yakni gempa bumi yang meluluhkan bangunan dan seisi kehidupan di atas tanah tinggi tersebut. Secara pribadi, saya sungguh-sungguh dapat merasakan betapa perihnya kejadian ini.

Ribuan mata tertuju ke kota Jam  gadang ini, beribu bahkan berjuta opini terucap baik di dalam hati atau terukir melalui ucapan bela sungkawa, peneguhan ataupun ratapan dengan kemeretak gigi mengutuk bencana ini. Lantas sapa yang harus disalahkan? Kenapa harus terjadi bencana seperti ini? apa yang dapat kita ambil hikmah dari kejadian ini? wah-wah kalo diteruskan bisa-bisa  sehari semalam pertanyaan-pertanyaan ini terus bergulir dan menjenuhkan.

Saya secara pribadi merasa tertarik untuk mengkaji, bagaimana sih seorang Optimis mengemukan pandangannya perihal arti bencana dari kacamatanya?

Bertolak dari pengertian etimologis, Optimis itu sendiri berasal dari bahasa latin yakni Optimus yang berarti “terbaik”. Dan dalam perkembangannya mengalami perubahan makna yakni” harapan penuh serta yakin perihal adanya kebaikan ataupun hikmah yang dapat diambil dari setiap kejadian(bencana) yang ada.

Kaum optimis ketika dihadapkan dengan realitas yang memilukan seperti ini lebih cenderung mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya dan menutup kedua matanya guna melatih indera pendengarannya. Mereka lebih suka mendengarkan curahan  isi hati para korban ketimbang melihat secara nyata mayat-mayat yang bergelimpangan. Bagi saya lebih cocoknya mereka lebih cocok disebut “relawan peneguhan” yang berjalan kesana-sini sambil menenteng mp4 dan meletakan headseat ke telinga para korban lalu memutar lagu Dmasiv yang berjudul “Jangan menyerah”. Kurang lebih liriknya yang dapat saya kutip:

“Hidup adalah anugerah, jangan mudah putus asa..

Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik

Tuhan Pasti menunjukan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar”

Sepenggal lirik di atas sungguh mencerminkan pandangan para kaum optimis, yang berpasrah dan berserah dirih kepada nasib. Bagi mereka segala sesuatu yang ada di muka bumi telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, sosok manusia diletakan seperti boneka yang digerakan kesana kemari.

Sikap berpasrah yang saya tekankan di atas telah ada dan tumbuh subur sejak dahulu di dalam sebuah lembaga yang disebut Agama. Salah satu tokoh Optimis dan religus yang terkenal dimasa lalu adalahLeibnitz(1646-1716) mencetuskan pandangannya bahwa

“segala sesuatu yang ada di dunia ini baik apa adanya, karena diciptakan  dan ditentukan oleh Monade/Tuhan” (dikutip dan diterjemahkan dari situs .http://novaonline.nvcc.edu/eli/eng252/candidestudy.html)

Selain Leibnitz saya juga mengutip salah satu surat kuitpan dari Imam Ahmad rahimahullah yang berkata

“Di dalam Al Quran kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan.” (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/seberkas-cahaya-di-tengah-gelapnya-musibah.html,di akses pada tanggal 3 Oktober 2009)

Dari kedua contoh kecil tersebut di atas jelaslah bahwa banyak pihak berpendapat bahwa segala bencana yang terjadi di muka bumi ini telah ditakdirikan untuk manusia dan manusia hendaklah bersabar karena itu semua adalah cobaan sang Kuasa. Dan seperti itulah kaum optimist mengkaji arti bencana dari kacamata mereka. Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini baik adanya, kejahatan ataupun bencana adalah pemberian Tuhan, manusia hendaklah selalu bersabar dan berdoa.

Timbulah keprihatinan saya perihal betapa rendahnya eksistensi manusia yang “katanya” diciptakan sesuai Citra Allah. Namun kok kenapa selalu dicoba dan selalu mengalami musibah bencana seperti ini? Hingga saya punya satu statement yang unik perihal keadaan ini. “Manusia saja yang selalu dicoba, terus kapan dong Tuhan di coba?”.

Referensi:

October 4, 2009

Posted by williamhegel in deisme.
5 comments

Voltaire dan Deisme

Voltaire (François-Marie Aroue)t, seorang filsuf, penulis essay perancis yang terkenal dimasa Pencerahan. Ia dilahirkan pada tanggal 21 November 1694  dan meninggal pada tanggal  30 Mei 1778. Beliau adalah seorang tokoh yang terkenal getol dalam menyeruhkan perjuangan dalam memperthankan hak-hak Publik, yang di dalamnya termasuk hak untuk bebas dari kungkungan hegemoni gereja terhadap kebebasan beragama dan berdagang.  Bukanlah Voltaire jika dia tidak pandai menciptakan musuh. Melalui pijaran-pijaran kata-kata yang tertulis pada buku-bukunya maupun surat-suratnya seperti Dictionnaire philosophique,( kamus Filsafat), Candide( Optimisme), adalah contoh-contoh yang dapat menggambarkan keseluruhan inti perjuangannya. Selain itu pula, pembaca pun dapat mengetahui “apa yang menjadi alasan dasar Voltaire melakukan itu semua?.

Berlandaskan dari pola pikirnya yang menolak keabsolutan sebuah keimanan dari sebuah agama semata (kitab suci dan tradisi-tradisi yang mengatasnamakan pembebasan melalui tradisi-tradisi religi untuk percaya dan menyembah Tuhan.) Voltaire lebih memilih untuk memfokuskan ide-idenya terhadap sebuah keyakinanan bahwa dunia universal ini hanyalah didasarkan kepada hal-hal yang bersifat rasional semata dan ia lebih menekankan rasa respek terhadap alam. (http://en.wikipedia.org/wiki/Voltaire, diakses pada tanggal 23 Maret 2009).

Landasan pola pikir tersebut di atas mendasarkan kepada konsep Deisme yang tumbuh subur dimasa pencerahan(17-18m). Deisme adalah sebuah teologi yang menjelaskan posisi hubungan antara Tuhan dengan dunia ciptaan-Nya. Dimana Tuhan tidak ambil peduli lagi dalam kehidupan manusia, Ia membiarkan keseluruhan proses kehidupan berlangsung antara manusia dan alam dalam sebuah jalinan relasi yang disebut Hukum Alam.

Hal senada ini didukung oleh John Orr (1934) dalam bukunya yang berjudul English Deism: Its Roots and Its Fruits. Eerdmans. Hal. 13.

God endowed the world at creation with self-sustaining and self-acting powers and then abandoned it to the operation of these powers acting as second causes.

Yang dapat diterjemahkan sebagai berikut:

Tuhan menghadiahkan dunia kepada ciptaan-Nya yang telah dianugerahi pertahanan diri dan kekuatan bertindak, kemudian Tuhan meninggalkannya dalam perjalanan proses tindakan itu sendiri sebagai Causa kedua( Causa pertama adalah Tuhan)

Dari pengertian-pengertian tersebut, penulis dapat menggarisbawahi beberapa point penting pandangan Voltaire sebagai seorang penganut Deisme itu sendiri:

  1. Setiap Sebab( Causa) tidak selamanya mengarah kepada sebuah Akibat(Efek) yang baik atau tepat.
  2. Tuhan itu sudah tidak menjadi Sutradara utama semenjak dunia tercipta, ia menciptakan dunia dan membiarkan dunia dan ciptaan-Nya berinteraksi dalam hukum alam.(dikutip dan diterjemahkan dari Skripsi Hilarius H.mitedede, 2009)

Kedua point penting tersebut di atas tentu membawa kontradiksi bagi para kaum religius yang beranggapan bahwa pendapat ini sangat melecehkan Eksistensi Magnum Opus, dan menganggap bahwa kaum Deist( Penganut Deisme) adalah kafir atau sesat. Namun bagi Penulis, Voltaire adalah sebuah batu penjuru yang membawa kesejukan di tengah caruk maruknya dunia yang penuh dengan kekejaman dan melegalkan pembantaian masal dengan mengatasnamakan Tuhan.

Hal yang dapat dijadikan sebagai kesimpulan penyusun adalah, bagi Voltaire dan Kaum Deist memiliki prinsip “daripada lirik rumput tetangga, mendingan kita rawat rumput di halaman kita sendiri..”

Referensi:

Mitedede,H,Hilarius. 2009. A STUDY OF VOLTAIRE’S CONTRADICTIONS THROUGH THE CHARACTER OF CANDIDE TO LEIBNIZ’S OPTIMISM IN VOLTAIRE’S CANDIDE. Hal.16

Orr, John. 1934. English Deism: Its Roots and Its Fruits. Eerdmans. Hal. 13

http://en.wikipedia.org/wiki/Voltaire.com

BELAJAR DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL October 2, 2009

Posted by williamhegel in dunia pendidikan.
3 comments

PENDAHULUAN

Perasaan manusia pada umumnya mudah  dipengaruhi oleh  apa yang dilihat, dirasakan dan didengar. Dengan kata lain, sungguh  tidak mustahil ketika ada pendapat yang menyatakan bahwa audio visual mempengaruhi sikap dan perilaku, serta menjembatani proses pembelajaran.

Pernyataan tersebut di atas dapat didukung oleh Yudhi  Munadi (2008), dalam bukunya menekankan bahwa indera yang paling banyak membantu manusia dalam perolehan pengetahuan dan pengalaman adalah indera pendengaran dan  indera penglihatan.

Media dapat diartikan dengan istilah penghubung atau perantara dalam menyampaikan suatu materi yang diajarkan untuk mencapai suatu  tujuan. Dan dalam proses penyampaian materi kepada orang lain dapat menggunakan sarana atau alat dalam bentuk audio,visual, audio visual dan multimedia.

Media audio visual dapat diartikan sebagai media yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses. Lebih lanjutnya lagi, Yudhi Munadi (2008: 9) berpendapat bahwa pesan visual yang terdengar dan terlihat itu dapat disajikan melalui program audio visual melalui film dokumenter, film drama, dan lain-lain. Yang dalam penyajiannya dapat disambungkan pada alat proyeksi (projectable aids).

Dalam makalah ini, menekankan kepada klasifikasi bentuk media audio visual  dan manfaat dari masing-masing klasifikasi media audio visual tersebut.

MEDIA AUDIO VISUAL

Seperti yang telah ditekankan di pendahuluan, yaitu menekankan kepada klasifikasi bentuk media audio visual  dan manfaat dari masing-masing klasifikasi media audio visual tersebut, maka pada bab ini akan memaparkan beberapa bentuk serta manfaat dari peralatan media audio visual yang lazim digunakan di dalam dunia pendidikan.

Media audio visual dapat dibagi menjadi dua jenis, jenis pertama yakni “Media Audio Visual Murni”, dimana media jenis ini dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar  serta “Media Audio Visual Tidak Murni”, yakni peralatan visual yang harus dilengkapi dengan unsur penunjang audio, seperti rekaman kaset yang dimanfaatkan secara bersamaan. Adapum bentuk-bentuk media audio visual murni yang dapat dijabarkan di bawah ini.

  1. A. Film Gerak Bersuara

Film adalah alat yang ampuh  untuk menyampaikan suatu maksud kepada masyarakat dan juga anak-anak yang memang lebih banyak menggunakan aspek emosinya dibanding aspek  rasionalitasnya. Besarnya kegunaan media ini dapat pula dirasakan dalam dunia pendidikan. Munadi  menekankan bahwa melalui indera yang terlibat, dia menyimpulkan bahwa film adalah alat komunikasi yang sangat membantu proses pembelajaran efektif. Karena apa yang terpandang mata dan terdengar oleh telinga, lebih cepat dan lebih mudah diingat daripada apa yang  hanya dapat dibaca saja atau hanya didengar saja.

Manfaat dan karakteristkik  lainnya dari media ini adalah meningkatkan efektivitas dan efesiensi proses pembelajaran. Di antaranya:

  • Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu.
  • Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat.
  • Pesan yang disampaikannya secara cepat dan mudah diingat.
  • Mengembangkan pikiran dan pendapat siswa.
  • Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang.
  • Semua peserta didik dapat belajar dari film, baik yang pandai maupun yang kurang pandai.

Selain kelebihan di atas, adapun kelemahan yang muncul dalam pelaksanaan dan pengembangan materi tersebut. Permasalahan yang muncul adalah media audio visual terlalu menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangan materi tersebut.

Dalam konteks pembelajaran, film mempunyai banyak jenis yang variatif, diantaranya adalah sebagai berikut:

v     Film Dokumenter (documentaries)

Film dokumenter menggambarkan permasalahan kehidupan manusia meliputi bidang ekonomi, budaya, hubungan antarmanusia, etika dan lain sebagainya. Hal senada ini diucapkan oleh Grieson (Heinich, 1985: 212) dengan sebuah pernyataan  “a creative treatment of actually”. Film dokumenter dapat mengambil kisah tentang kehidupan manusia di daerah pedalaman, misal : sistem pendidikan pesantren.

v     Dokudrama

Perbedaan dari jenis film ini dengan dokumenter adalah dalam dokudrama membutuhkan pengadegan. Misal : kisah teladan para nabi dan rasul.

v     Film Drama dan Semidrama

Kedua film ini melukiskan relasi antara sesama manusia dan tema tersebut bisa bersifat fiktif dan non fiktif.

Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pengajar dalam memanfaatkan film untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkannya adalah:

  • Film harus dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran. (Anderson: 1987: 116-117)
  • Guru harus mengenal dan melihat terlebih dahulu film tersebut agar mampu mengetahui manfaat film tersebut.
  • Agar siswa tidak memandang film sebagai media hiburan semata, perlu diberikan penugasan dan pemberian test guna mengetahui seberapa banyak informasi yang mereka tangkap.
  1. B. Video

Video maupun  media film memiliki banyak kemiripan dalam segi karakteristiknya dan kelemahannya. Yakni mengatasi keterbatasan jarak dan waktu dan sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang. Kelemahannya adalah sama-sama menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangan materi tersebut.

Dalam upaya pemanfaatan video dalam proses pembelajaran, hendaknya kita memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Program Video harus dipilih agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Salah satu contohnya adalah apabila pemakaian media video untuk  tujuan kognitif dapat digunakan untuk hal-hal yang menyangkut kemampuan mengenal kembali dan memberikan rangsangan berupa gerak yang serasi. Pengamatan terhadap kecepatan relative suatu obyek, mengajarkan pengenalan makna sebuah prinsip kemanusiaan

  • Guru harus mengenal program video yang ada dan  memahami manfaatnya bagi pelajaran.
  • Sesudah program video diputar, harus diadakan diskusi. Agar siswa memahami bagaimana mencari pemecahan masalah dan menjawab pertanyaan.
  • Perlu diadakan terst agar mampu  mengukur berapa banyak informasi yang mereka tangkap dari program video tersebut.

Perkembangan Video

Perkembangan teknologi audio visual ini dapat diklasifikasikan secara garis besar  menjadi dua bentuk yakni Video Pita Magnetik (VTR, VCR, dan Mini-DV), serta Video Disc.

a. Video Pita Magnetik (VTR, VCR, dan Mini-DV)

Pengembangan Video Pita Magnetik diawali pada tahun 1951 oleh Alexander M. Poniatoff. Setelah melewati berbagai proses pengembangan, lahirlah dua format video yakni Video Tape Recorder (VTR) dan Video Cassette Recorder (VCR). Dalam  penyebarannya, tipe VRC ½ inch (Li-matic) pernah menjadi raja di pasaran Indonesia pada era 1980-an hingga awal 1990-an.

VCR tipe ½ inch sangat popular karena bukan saja dapat dimanfaatkan sebagai sarana hiburan namun bermanfaat untuk pesan yang bersifat informative, edukatif dan instruktisional. Hal ini disebabkan media ini mampu melibatkan dua indera  sekaligus, yakni pendengaran dan penglihatan dalam satu proses.

Ketika Handycam  membawa serta pula munculnya teknologi pita magnetic yakni Hi8 dan Mini-DV (Digital Video). Adapun kelebihan dan kelemahan dari kedua pita magnetik ini,  kelebihannya adalah ukurannya yang lebih kecil dan murah namun tidak begitu popular digunakan oleh masyarakat umum.

  1. Video Disc

Video disk adalah sebuah sarana penyimpanan data berupa gambar maupun suara yang dipopulerkan Philips pada tahun 1972, dengan pendasaran capacitance system, yakni system pemindaian informasi gambar dan suara dengan system pemindaian (scan) informasi gambar dan  suara dengan menggunakan tracking arm dan stylus. Kemudian mengalami perkembangan menjadi semakin canggih dan memiliki kapasitas penyimpanan data audio maupun video semakin besar dan praktis. Hal ini dapat dilihat dengan bermunculannya bentuk-bentuk kepingan seperti DVD,  HD-DVD dan blu –ray.

  1. C. TELEVISI

Televisi adalah  media yang berperan sebagai gambar hidup dan juga sebagai radio yang dapat dilihat dan didengar secara bersamaan. Selain itu, televisi juga dapat memberikan kejadian-kejadian yang sebenarnya pada saat, suatu peristiwa terjadi dengan disertai dengan komentar dari penyiarnya.

Dalam dunia pengajaran, telivisi juga mengambil peran serta. Hal ini dapat kita lihat dari keuntungan yang diperoleh dati televisi untuk menunjang pengajaran, yakni :

  1. Bersifat actual.
  2. Memperluas tinjauan kelas, melintasi tinjauan  kelas, melintasi berbagai daerah atau Negara.
  3. Dapat menghidupkan kembali cerita yang terjadi di masa lampau.
  4. Menarik minat anak.
  5. Mampu  melatih guru dalam masa pre-servise serta inservice training.
  6. Masyarakat diajak berpartisipasi dalam rangka meningkatkan perhatian mereka terhadap sekolah.

Telivisipun memiliki sisi kelemahan sebagai media pembelajaran, yakni media ini juga menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangan materi serta yang yang paling mencolok adalah adanya komunikasi satu arah saja. Sehingga akan terjadi kesulitan dalam pentrasnferan jadwal siaran pembelajaran di televisi dengan jadwal pembelajaran di sekolah.

Di samping itu juga, televisi merupakan media pembelajaran jarak jauh. Berbicara mengenai televisi sebagai media pendidikan menimbulkan kesadaran bahwa masih sedikitnya jumlah stasiun telivisi yang memuat program pendidikan. Selain itu, timbulnya keluhan-keluhan yang dilontarkan masyarakat tentang dampak negatif siaran televisi. Di dalam jurnal  Global March, UNESCO memuat kecemasan tentang televisi dan dampak negatif yang terjadi di hampir seluruh pelosok dunia selama ini yang mengancam kehidupan anak-anak dan bahkan berdampak buruk pada kehidupan sosial manusia (http://www. Globalmarch.org.html, di akses pada tanggal 20 September 2009).

Dengan  hadirnya Televisi Edukasi (TV-E) sebagai sebuah stasiun televisi di Indonesia yang menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran diharapkan mampu menjalankan misi mulia ini. Adapun sasaran utama dari TV-E adalah sekolah dengan materi pendidikan yang ditujukan pada siswa jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Bertolak dari teori yang menjadi bahan diskusi di khalayak ilmuwan tentang  proses memancarkan seketika gambar bergerak ke jarak yang jauh menggunakan elektromagnetik, John Logie(1888-1956) berhasil membuat televise hitam putih pada tahun 1923. Dari bentuk TV yang sederhana ini, mengalami perkembangan kearah bentuk yang lebih praktis dengan fasilitas yang semakin lengkap. Cathode Ray Tube (CRT), LCD dan Plasma display Plasma (PDP) adalah bentuk perkembangan teknologi televise hingga abad ini..

KESIMPULAN

Para pendidik dan orang tua tidak dapat mengingkari begitu kuat pengaruh media komunikasi khususnya media audio visual terhadap anak didik. Daya tarik yang begitu kuat dari media audio visual bagi anak-anak tidak lepas dari karakteristik media ini yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan media cetak maupun media dengar, sehingga anak-anak sangat menyukainya. Sebagai orang yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan adalah tugas kita untuk kreatif dan selektif dalam menggunakan unsur-unsur media audio visual yang ada. Film, Video dan televisi adalah alat bantu, bukanlah menjadi faktor utama penentu berhasil tidaknya pentransferan ilmu kepada pelajar. Gurulah sebagai dokter yang paham untuk meracik semua alat yang ada untuk dimanfaatkan sebaik mungkin

salam kenal October 2, 2009

Posted by williamhegel in Uncategorized.
5 comments

salam kenal bagi teman-teman yang ada di dunia maya, izinkan saya memperkenalkan diri saya. nama saya William Hegel, silahkan panggil william. saya yakin disinilah tempat saya dapat belajar banyak tentang bagaimana menulis segala sesuatu yang dapat ditulis. karna bagi saya, kekuatan menulis begitu besar untuk membuat dunia ini lebih indah..okey thanks all